TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENUNJANG AGROINDUSTRI *)
Oleh :Siswantoro **)
A. LATAR BELAKANG
1. Umum
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) merupakan dua hal yang tak pernah selesai untuk diperbincangkan, sebab penelitian ilmu yang dilakukan manusia terus berjalan sesuai dengan tuntutan jaman. Tidak sedikit konsep-konsep terdahulu menjadi usang tergilas oleh pemahaman baru. Demikian juga dengan teknologi sebagai tindak lanjut dari penelitian ilmu, senantiasa mengimbangi kemajuannya. Sehingga tidak heran dalam waktu yang relatif singkat reformasi budaya secara besar-besaran telah mewarnai seluruh aspek kehidupan. Bahkan sampai ada yang beranggapan bahwa teknologi adalah segalanya, yang akan mampu memenuhi segala kebutuhan manusia. Pandangan semacam itu tidak perlu terjadi. Memang tidak dapat disangkal bahwa teknologi telah banyak memberi kenyamanan dan kemudahan, namun bila penerapannya kurang tepat akan menimbulkan dampak yang merugikan bagi para pengguna dan lingkungan.
Kalau diamati keadaan disekitar kita, hampir tak ada sesuatu yang tanpa sentuhan dan berbau teknologi, mulai dari peralatan rumah tangga, transportasi, komunikasi, pertanian, dan industri. Realita ini dapat dikatakan bahwa teknologi telah menjadi kebutuhan manusia. Apalagi dengan berkembangnya komputer (artificial intelligent), robot, pesawat antariksa dan lain-lain, semua itu patut dibanggakan. Tetapi semua itu bukan segalanya, dan sudah pasti mempunyai keterbatasan-keterbatasan tertentu.
2. Khusus
Pada dekade yang lalu kebijakan pemerintah kurang memberikan dukungan terhadap perkembangan sektor pertanian. Kondisi ini dikarenakan kebijakan pemerintah lebih memprioritaskan pada perkembangan industri yang berteknologi tinggi dengan menggunakan bahan baku impor dan tenaga kerja murah, serta agak mengabaikan hubungan antara sektor pertanian dan sektor industri. Data statistik menunjukan bahwa sekitar 50 % pekerja di Indonesia bekerja di sektor pertanian termasuk perkebunan, kehutanan dan industri pengolah hasil pertanian. Kenyataan tersebut memberikan gambaran bahwa sektor pertanian mempunyai kontribusi yang cukup besar pada penyediaan lapangan kerja (Sarijono, 2000).Tidak hanya besarnya penyediaan lapangan kerja, tetapi juga telah terbukti bahwa sektor pertanianlah yang mampu bertahan dan cukup tangguh dalam menopang terpaan krisis moneter berkepanjangan yang terjadi di Indonesia saat ini, bahkan sektor tersebut dapat memberikan kontribusi ekonomi secara nasional. Ironisnya sektor lain yang menerima dukungan baik modal maupun kebijakan dari pemerintah banyak yang mengalami “ collapse” bahkan hancur, serta membutuhkan dana injeksi hanya sekedar untuk bertahan. Oleh karena itu tidak perlu diragukan dan sangat beralasan jika sektor pertanian dijadikan landasan utama (tulang punggung) pengembangan ekonomi Indonesia. Untuk itu perlu ditingkatkan eksistensinya melalui berbagai pengembangan yaitu : pengembangan agroindustri, penerapan teknologi tepat guna (teknologi sepadan), serta peningkatan kuantitas dan kualitas riset-riset yang berbasis pertanian yang selama ini sering diabaikan.
*) Makalah Seminar Nasional : Pemantapan Sektor Pertanian Dalam mendukung Otonomi Daerah, Fak. Pertanian Univ. Jenderal Soedirman, Purwokerto 20 – 21 September 2001.
**) Staf Pengajar Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian UNSOED, Purwokerto.
Penerapan teknologi harus mempertimbangakan karakteristik dan spesifikasi suatu daerah dan masyarakat sasaran, serta dengan beberapa pertimbangan ketersediaan komponen bahan dan sumber energi serta sumber daya manusia. Mengacu pada beberapa diskripsi di atas, ada beberapa peralatan untuk menunjang Agroindustri yang telah dan sedang dikembangkan di Laboratorium Teknik Pertanian, UNSOED-Purwokerto. Peralatan tersebut antara lain berupa :
· Alat pengaering model kabinet dengan menggunakan sumber energi biomassa.· Alat pengering solar radiasi· Ekstruder untuk umbi-umbian bertenaga motor · Alat pengupas dan pemecah biji kedele guna penyediaan bahan baku tempe giling· Alat pengering model seprot (spray drier)